Ketika Mbak Aish Pergi

Anak saya Callysta Aisha, 3.5 tahun, tiba-tiba memutuskan mau ikut embah ke Majenang. Saya dan suami, juga embahnya hanya tertawa-tawa menanggapi pernyataan itu. ”Beneran nich Mbak, mau ikut Embah?” tanya saya. ”Iya…”jawab Mbak Aish, tegas meski wajahnya tetap terlihat imut.

Kami masih menganggap itu tidak serius, pasalnya dia memang sering seperti itu. Waktu lebaran di rumah nenek-kakeknya di Magelang dia juga bilang mau tinggal sama nenek saja. Tapi akhirnya ikut kami juga pulang ke Purwokerto. Kali ini kebetulan embahnya dari Majenang datang bersama Mas Angga, sepupunya, jadi kami anggap wajar Mbak Aish bersikap seperti itu. Paling nanti juga tidak jadi.

Waktu anak pertama saya itu minta disiapkan baju dan perlengkapan lain, suami saya meminta saya menyiapkan saja. Dan sambil tertawa saya asal-asalan memasukan baju, handuk dan perlengkapan mandinya.

Di mobil dalam perjalanan ke terminal kami terus menguji keseriusannya untuk ikut embah ke Majenang. ”Mommy, daddy dan Dik Kaka nggak ikut lho mbak…” dan lain-lain yang sebenarnya itu hanya untuk meledek dia saja. Tapi si cantik kriwil ini tetep keukeuh dengan pendiriannya.

Sampai terminal dengan pede dia memisahkan diri dari kami. Saya mulai khawatir. Jangan-jangan anak ini serius. Lalu saya mencoba memberi alternatif, untuk ke tempat embah bersama kami, minggu depan. Dia bergeming. Saya panik. Air mata sudah mulai menggenang di pelupuk.

Sambil menunggu bus, anak saya yang masih sekolah di play group itu dengan santainya duduk di bangku tunggu bersama penumpang lainnya. Ya Allah, khan Aish belum pernah naik bus sejauh ini. Tanpa orang tuanya lagi.

Dan ketika sebuah bus ekonomi jurusan Bandung berhenti di depan kami, mbak Aish dengen pedenya naik ke atas bus bersama penumpang lain. Dia terlihat senang meski harus berdesakan dengan penumpang lain. Air mata saya tak terbendung lagi. Si cantik hanya tersenyum melambai-lambaikan tangan mungilnya.

Sepanjang perjalanan pulang dari terminal, air mata saya terus membanjir. “Mbak Aish kok tega ya dad ninggalin kita,”kata saya pada suami. “Nggak apa-apa, dia khan ikut embahnya,”kata suami saya menghibur. Padahal saya yakin, dia sendiri pasti galau.

Semalaman saya tidak bisa tidur. Bahkan ketika sudah mendengar telepon dari embah yang mengabarkan mereka sudah sampai dengan suara latar belakang tawa gadis cilik saya yang lagi senang naik turun tangga.

Kepergian anak saya ini sungguh sebuah pelajaran. Betapa tidak enaknya ditinggalkan. Dan itu yang selama ini anak saya rasakan. Selama ini saya selalu jadi orang yang pergi dan anak saya hanya bisa menangis dipelukan pengasuhnya. Bahkan saat dia masih ASI ekslusif saya pernah meninggalkannya rapat ke Jakarta. stok ASI perah memang banyak, tapi dia pasti tetap merindukan ibunya.

Maafkan mommy ya Mbak Aish dan terima kasih atas pelajaran berharga ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s