Besok Bukan Rumah Saya Lagi…

...House for sale
You can read it on the sign
House for sale
It was yours and it was mine

And tomorrow some strangers
Will be climbing up the stairs
To the bedroom filled with memories
The one we used to share…

Melihat tetangga yang sedang berkemas-kemas untuk
pindah rumah membuat penggalan lagu “House for
Sale” itu tiba-tiba muncul kembali dalam ingatan. Ah,
sudah berapa lama ya lagu itu tidak mampir ke telinga
saya?
Pindah rumah di tengah semester, untuk keluarga
dengan empat anak yang masih sekolah pastilah bukan
pindahan biasa. Apa lagi salah seorang anaknya akan
mengikuti ujian nasional. Dan setahu saya, mereka
sangat memperhatikan pendidikan anak.
“Ayahnya anak-anak dapat kerja di Jawa Timur tante,
jadi ya semua boyongan pindah,”jawab sang ibu ketika
saya memprotes kepindahan mereka. Sebenarnya saya
tidak punya hak buat protes, hanya saja rasa kehilangan
membuat saya merasa mereka tega meninggalkan kami.
Bagaimanapun mereka adalah tetangga terbaik keluarga
saya di gang ini. Apa lagi anak saya yang sudah seperti
bagian keluarga mereka. Main, makan, tidur di rumah
itu. Kalau mereka pergi, siapa lagi tetangga kami?
“Kenapa nggak nunggu kenaikan kelas dan selesai unas
saja pindahnya? Biar ayahnya dulu yang pindah,”saya
masih mencoba membujuk.
“Nggak lah, katanya lebih mudah kalau pindah tengah
semester dari pada tahun ajaran baru,”kata perempuan
yang selalu berjilbab rapi itu. Sebenarnya saya masih
ingin mendebat jawaban itu, tapi akhirnya saya
urungkan, dan memilih pertanyaan lain. “Tapi suatu saat
nanti pindah sini lagi khan?” Setahu saya, mereka sudah
membayar lunas rumah itu dari pemilik sebelumnya.
“Kayaknya nggak tante. Rumahnya sudah dikembalikan
ke anaknya yang jual rumah,”ungkap tetangga saya itu.
Rupanya jual-beli rumah itu bermasalah. Tetangga saya
membeli pada seorang pemilik rumah, tapi pemilik rumah
itu belum membayar lunas ke bank. Padahal pemilik
pertama itu meninggal, sementara ahli warisnya tidak
tau menau tentang persolan itu. Alih-alih mendapatkan
sertivikat rumah, tetangga saya itu malah harus
membayar tunggakan ke bank puluhan juta dan harus
mencicil lagi selama tujuh tahun.
Akhirnya setelah bertemu ahli waris pemilik rumah
pertama, mereka meminta kembali uang yang dulu
dibayarkan. Untungnya hali waris bersedia meski
dengan cara mencicil.
Sebenarnya saya tidak habis pikir dengan peristiwa
jual-beli rumah yang kacau ini. Apa lagi tetangga saya
itu suami -istri berpendidikan sarjana. Sang suami
bahkan punya latar belakang keuangan. Hanya saja
mereka itu terlalu baik, tidak punya prasangka buruk
dan sangat mudah percaya pada orang.
Dan ini bukan pertama kalinya mereka tertipu karena
kebaikan hati mereka itu. Sejak memutuskan resign dari
perusahaan kayu tempatnya bekerja, suami tetangga
saya beberapa kali membuat bisnis kecil-kecilan.
Beberapa kali saya lihat usaha mereka tumbuh. Bahkan
saya dan suami sempat senang dan kagum dengan
pertumbuhan usaha kecil mereka yang bisa membuka
lapangan kerja bagi banyak pengangguran di desa-desa
sekitar.
Namun setiap kali usaha mereka berjalan baik, selalu
saja datang cobaan. Ada orang yang melarikan uangnya,
ada yang tidak membayar bahkan sempat jadi korban
hipnotis.
Namun yang saya kagumi dari pasangan suami-istri
tetangga saya itu, mereka selalu saja sabar menghadapi
cobaan. Tetap mengalir seperti air sungai yang selalu
menemukan celah saat menabrak batu.
Cobaan demi cobaan yang datang menghampiri
sepertinya membuat ikatan dalam keluarga itu makin
kokoh. Pasangan itu tetap terlihat mesra. Bahkan
kekacauan satu sama lain hanya sekedar jadi bahan
ledekan. Keempat anak mereka juga sangat rukun. Yang
lebih besar selalu bisa melindungi dan membimbing yang
lebih kecil. Itu sepertinya yang membuat anak saya,
dan anak-anak tetangga lainnya betah main ke rumah
tetangga saya itu.
Dalam kehidupan yang penuh cobaan itu, saya melihat
peran seorang istri dan ibu yang luar biasa di sana.
Selain mengurus rumah dan empat anak, dia masih harus
terus memutar otak untuk membantu suami memenuhi
kebutuhan keluarga. Segala usaha dicoba. Mulai dari
jualan makanan kecil yang dititipkan di warung sampai
menerima jahitan. Tubuh kurusnya itu selalu kokoh
untuk menjadi bumper segala persoalan.
Dia bahkan terlalu kokoh sehingga tak pernah
menampakkan kesulitan yang dialami. Mungkin dia tak
pernah merasa itu sebagai kesulitan karena rasa syukur
yang selalu ada dalam dirinya.
Sambil menata barang-barang yang akan dibawa pindah,
perempuan berwajah manis itu bercerita pada saya.
“Saya tuch pernah lho nggak punya uang sepeserpun.
Padahal beras juga habis. Waktu itu saya mikir
bagaimana dengan keempat anak saya. Sepanjang hari
saya hanya bisa baca shalawat terus. Eh Alhamdulillah,
sorenya ada yang datang bayar suami saya,”kisahnya.
Tak ada nada mengeluh. Titik tekan ceritanya justru
pada kebesaran Allah yang selalu memberi jalan keluar
bagi persoalan-persoalannya.
“Pernah, saya tidak punya uang dan tidak tau apa lagi
yang harus dijual. Padahal besok harus kasih uang saku
buat anak-anak. Ya sudah, saya bilang ke suami agar
menjual mesin obrasnya saja. Tapi kayaknya mesin
obrasnya nggak mau dijual. Alhamdulillah, saat itu
datang pesanan membuat seragam olahraga,”kisah ibu
empat anak itu dengan wajah berseri-seri.
Mungkin besarnya rasa syukur mereka yang membuat
Allah selalu memberi jalan keluar atas segala persoalan
yang mereka hadapi. Bahkan perempuan itu masih tetap
tersenyum saat mengantar saya mengitari ruang demi
ruang di rumah yang akan segera ditinggalkannya.
Menunjukkan dinding dapur yang dihiasi lukisan
anaknya, atap rumah yang bocor, lukisan karya
suaminya yang masih terpajang di dinding ruang tamu.
“Ah, ini besok sudah bukan rumah saya,”katanya lirih,
masih diiringi senyum khasnya.
Sementara mata saya sudah sangat berat digandoli
bergalon air mata yang siap tumpah. Apa lagi jika
mengingat syair lagu “House for Sale”

… tell myself once more I won’t be here in spring
To see my roses grow
And all the things you tried to fix
The roof still leaks, the door still sticks…

Semoga setelah ujian demi ujian yang mereka alami
Allah segera menaikkan kelas mereka di tempat yang
baru nanti.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s