Momen Wow

DSC_0568

 

 

Beberapa waktu terakhir di televisi kerap ditayangkan iklan tentang “momen wow” seorang ibu ketika melihat hal luar biasa yang dilakukan anaknya. Iklan itu juga mengajak orang tua untuk mengirimkan kisah “momen wow” mereka dengan anaknya masing-masing.
Saya berpikir cukup serius agar bisa ikut kompetisi itu. Kira-kira apa yg menjadi momen wow saya. Ternyata saya malah bingung. Semakin dipikir, semakin bingung. Bukan karena tidak ada momen wow yang saya temukan. Tapi setiap momen bersama anak saya ternyata adalah momen wow.
Setiap hari, bahkan setiap saat, anak-anak saya selalu membuat saya merasa “wow”. Apa yang mereka lakukan selalu saja menakjubkan. Membuat saya kagum, heran, bahagia, geli. Dan memang hanya kata “wow” yg bisa mewakilinya.
Saya akhirnya memang tidak jadi mengikuti kompetisi itu. Namun saya cukup berterima kasih pada penyelenggaranya karena mereka mengingatkan betapa saya adalah orang yang sangat bahagia. Orang yang sepatutnya selalu mengucap syukur karena Allah SWT memberi kesempatan melihat berbagai keajaiban dari seorang anak.

Daddy Tidak Punya Ti..t

Ini pelajaran yang saya dapat hari ini. Jangan sembarangan ngomong sama anak!

Saya sedang melihat-lihat undangan khitanan anak tetangga. Karena berbeda gang dan mereka orang baru, saya tidak kenal dengan si pengundang. Termasuk dengan anak yang disunat.

“Mom, siapa sih yang disunat?” tanya Mbak Aish

“Ini mas-mas mommy nggak tau,” jawab saya sambil lalu.

“Lah..mommy gitu. Siapa sih mom,”tanyanya lagi dengan nada kesal.

Dari pada berdebat saya akhirnya menjawab asal-asalan tanpa berpikir panjang.

“Yang disunat daddy.”

“Hahhhh…mosok daddy yang disunat,”senyum mengembang di bibir anak saya, matanya juga melebar seperti takjub.

Saya langsung lega. Tapi saya jadi kaget dengan pernyataan selanjut. “Daddy khan nggak punya ti..t kayak dek Kaka,”kata Mbak Aish dengan suaranya yang imut tapi banter.

Meski bingung saya tertawa ngakak mendengarnya. Akhirnya suami saya yang menjawab. “Ya punyalah…tapi daddy sudah sunat,”jelasnya sambil senyum-senyum.

“Berarti pe..s-nya daddy dipotong?”tanya anak saya yang baru berumur 4 tahun itu.

“Bukan dipotong… Eh sudah yuk nanti kita telat ke masid. Khan mau kondangan juga nanti,”suami saya tidak menjawab sampai tuntas dan langsung mengalihkan perhatian Mbak Aish yang memang suka bertanya sampai mendetil.

Untung anak itu mau. Rupanya kami belum siap untuk menjelaskan perbedaan kelamin ini lebih jauh pada anak-anak. Apa lagi kalau anak saya yang kritis itu minta bukti dan ingin melihat.

Duh…betapa tidakmudahnya menjadi orang tua…

Biarkan Dia dengan Caranya

waktu masih pakai satu roda bantu

waktu masih pakai satu roda bantu

Melihat anak-anak di komplek perumahan kami bersepeda, Mbak Aish juga ingin punya sepeda. Bukan sepeda bayi yang beroda tiga seperti yang sudah dia miliki tapi sepeda roda dua yang diberi roda bantu. Akhirnya saya dan suami membelikan sepeda impiannya itu padahal waktu itu usianya belum genap tiga tahun.

Mbak Aish semangat sekali untuk bisa menaiki sepedanya, meski hanya di dalam rumah. Meski ada roda bantu, bukan berarti dia bisa langsung mengayuh dan membuat sepedanya melaju. Itu yang kadang-kadang membuatnya malas belajar naik sepeda. Kalau sudah begitu, dia hanya menaiki sepedanya dan mengayuh ke arah belakang. Tentu saja sepedanya tidak bergerak.

Tapi semangat untuk bisa rupanya mengalahkan rasa malasnya. Dan ketika akhirnya dia bisa mengayuh ke depan dan sepedanya bergerak, kami senang sekali. Dia pun akhirnya menaiki sepedanya di jalan, bukan di dalam rumah lagi.

Setelah bisa rupanya dia mulai bosan. Selain itu, sepedanya juga sering sekali rusak. entah banya, rantainya pokoknya ada saja yang rusak. Lama-lama bermain sepeda mulai dilupakan. Apa lagi teman-temannya juga sudah tidak antusias bersepeda. Hanya sesekali saja dia menaiki sepedanya.

Seperti musim yang selalu datang dan pergi, bersepeda akhirnya menjadi trend kembali di kalangan anak-anak sebaya Mbak Aish. Kali ini mereka mulai serius bersepeda. Roda bantu mulai dihilangkan satu. Bahkan ada yang sudah bisa tanpa roda bantu.

Sepeda warna pink yang sekian lama mangkrak akhirnya mulai dilirik kembali oleh si kriwil. Sayangnya rantai dan bannya rusak. Mbak Aish harus menunggu sepedanyiperbaiki dulu sebelum bisa menaikinya. Sekalian memperbaiki, saya dan suami memutuskan untuk melepas satu roda bantu.

Awalnya anak cantik saya itu jadi rewel karena merasa bakalan tidak bisa. Tapi lama-lama akhirnya dia bisa juga. Setelah dua minggu, saya minta daddy-nya untuk melepas roda bantu yang satu lagi.

Mbak Aish kembali rewel. Saya dan suami berkali-kali membujuk dan mengajarinya cara naik sepeda tanpa roda bantu tapi dia tetap tidak mau. Dibantu dipegangi juga tidak mau. Saya agak kesal. Tapi akhirnya membiarkan anak saya mengikuti kemauannya. Tidak ada gunanya juga memaksa kalau dia tidak ingin.

Diam-diam Mbak Aish mulai menyentuh sepedanya lagi. Tapi dia menaiki dengan cara yang aneh. Duduk di boncengan dan membuat sepeda melaju dengan kakinya. Bukan mengayuh pedalnya, tapi kakinya seperti berjalan biasa hanya saja dia duduk di atas sepeda.

Sebagai ibu-ibu yang cerewet, saya kembali menegur Mbak Aish. Saya takut kakinya capek atau sakit. Apa lagi dia bersepeda dengan cara itu sampai ke mana-mana bersama teman-temannya yang sudah bisa mengayuh sepeda.

Omongan saya lagi-lagi nggak laku. Mbak Aish tetap bersepeda dengan gayanya sendiri. Saya sampai usul ke suami agar melepas saja boncengan sepedanya. Hingga suatu pagi, saya dan suami melihat dia mulai mengayuh sepedanya. Meski dia tetap duduk di bagian boncengan. Awalnya masih meliuk-liuk. Lama-lama dia bisa menjalankan sepedanya dengan lancar.

Setelah dia mulai ahli dengan teknik itu, saya menganjurkan dia untuk pindah depan. Tidak duduk diboncengan lagi. Meski sempat ngeyel, akhirnya dia lakukan juga. Dan ternyata dia langsung bisa.

Kami semua senang. Mbak Aish akhirnya bisa naik sepeda. Meski itu awal dari masalah baru, dia bisa bermain lebih jauh. Kali ini saya ingin menghilangkan sepedanya he he he…

Tapi saat anak saya belajar naik sepeda, rupanya saya juga sedang dibuat belajar untuk menjadi ibu yang baik. Ibu yang tidak memaksakan kehendak pada anak dan membiarkan anak memilih sesuatu yang lebih pas dan lebih baik untuk dirinya.

Ketika Mbak Aish Pergi

Anak saya Callysta Aisha, 3.5 tahun, tiba-tiba memutuskan mau ikut embah ke Majenang. Saya dan suami, juga embahnya hanya tertawa-tawa menanggapi pernyataan itu. ”Beneran nich Mbak, mau ikut Embah?” tanya saya. ”Iya…”jawab Mbak Aish, tegas meski wajahnya tetap terlihat imut.

Kami masih menganggap itu tidak serius, pasalnya dia memang sering seperti itu. Waktu lebaran di rumah nenek-kakeknya di Magelang dia juga bilang mau tinggal sama nenek saja. Tapi akhirnya ikut kami juga pulang ke Purwokerto. Kali ini kebetulan embahnya dari Majenang datang bersama Mas Angga, sepupunya, jadi kami anggap wajar Mbak Aish bersikap seperti itu. Paling nanti juga tidak jadi.

Waktu anak pertama saya itu minta disiapkan baju dan perlengkapan lain, suami saya meminta saya menyiapkan saja. Dan sambil tertawa saya asal-asalan memasukan baju, handuk dan perlengkapan mandinya.

Di mobil dalam perjalanan ke terminal kami terus menguji keseriusannya untuk ikut embah ke Majenang. ”Mommy, daddy dan Dik Kaka nggak ikut lho mbak…” dan lain-lain yang sebenarnya itu hanya untuk meledek dia saja. Tapi si cantik kriwil ini tetep keukeuh dengan pendiriannya.

Sampai terminal dengan pede dia memisahkan diri dari kami. Saya mulai khawatir. Jangan-jangan anak ini serius. Lalu saya mencoba memberi alternatif, untuk ke tempat embah bersama kami, minggu depan. Dia bergeming. Saya panik. Air mata sudah mulai menggenang di pelupuk.

Sambil menunggu bus, anak saya yang masih sekolah di play group itu dengan santainya duduk di bangku tunggu bersama penumpang lainnya. Ya Allah, khan Aish belum pernah naik bus sejauh ini. Tanpa orang tuanya lagi.

Dan ketika sebuah bus ekonomi jurusan Bandung berhenti di depan kami, mbak Aish dengen pedenya naik ke atas bus bersama penumpang lain. Dia terlihat senang meski harus berdesakan dengan penumpang lain. Air mata saya tak terbendung lagi. Si cantik hanya tersenyum melambai-lambaikan tangan mungilnya.

Sepanjang perjalanan pulang dari terminal, air mata saya terus membanjir. “Mbak Aish kok tega ya dad ninggalin kita,”kata saya pada suami. “Nggak apa-apa, dia khan ikut embahnya,”kata suami saya menghibur. Padahal saya yakin, dia sendiri pasti galau.

Semalaman saya tidak bisa tidur. Bahkan ketika sudah mendengar telepon dari embah yang mengabarkan mereka sudah sampai dengan suara latar belakang tawa gadis cilik saya yang lagi senang naik turun tangga.

Kepergian anak saya ini sungguh sebuah pelajaran. Betapa tidak enaknya ditinggalkan. Dan itu yang selama ini anak saya rasakan. Selama ini saya selalu jadi orang yang pergi dan anak saya hanya bisa menangis dipelukan pengasuhnya. Bahkan saat dia masih ASI ekslusif saya pernah meninggalkannya rapat ke Jakarta. stok ASI perah memang banyak, tapi dia pasti tetap merindukan ibunya.

Maafkan mommy ya Mbak Aish dan terima kasih atas pelajaran berharga ini.

Besok Bukan Rumah Saya Lagi…

...House for sale
You can read it on the sign
House for sale
It was yours and it was mine

And tomorrow some strangers
Will be climbing up the stairs
To the bedroom filled with memories
The one we used to share…

Melihat tetangga yang sedang berkemas-kemas untuk
pindah rumah membuat penggalan lagu “House for
Sale” itu tiba-tiba muncul kembali dalam ingatan. Ah,
sudah berapa lama ya lagu itu tidak mampir ke telinga
saya?
Pindah rumah di tengah semester, untuk keluarga
dengan empat anak yang masih sekolah pastilah bukan
pindahan biasa. Apa lagi salah seorang anaknya akan
mengikuti ujian nasional. Dan setahu saya, mereka
sangat memperhatikan pendidikan anak.
“Ayahnya anak-anak dapat kerja di Jawa Timur tante,
jadi ya semua boyongan pindah,”jawab sang ibu ketika
saya memprotes kepindahan mereka. Sebenarnya saya
tidak punya hak buat protes, hanya saja rasa kehilangan
membuat saya merasa mereka tega meninggalkan kami.
Bagaimanapun mereka adalah tetangga terbaik keluarga
saya di gang ini. Apa lagi anak saya yang sudah seperti
bagian keluarga mereka. Main, makan, tidur di rumah
itu. Kalau mereka pergi, siapa lagi tetangga kami?
“Kenapa nggak nunggu kenaikan kelas dan selesai unas
saja pindahnya? Biar ayahnya dulu yang pindah,”saya
masih mencoba membujuk.
“Nggak lah, katanya lebih mudah kalau pindah tengah
semester dari pada tahun ajaran baru,”kata perempuan
yang selalu berjilbab rapi itu. Sebenarnya saya masih
ingin mendebat jawaban itu, tapi akhirnya saya
urungkan, dan memilih pertanyaan lain. “Tapi suatu saat
nanti pindah sini lagi khan?” Setahu saya, mereka sudah
membayar lunas rumah itu dari pemilik sebelumnya.
“Kayaknya nggak tante. Rumahnya sudah dikembalikan
ke anaknya yang jual rumah,”ungkap tetangga saya itu.
Rupanya jual-beli rumah itu bermasalah. Tetangga saya
membeli pada seorang pemilik rumah, tapi pemilik rumah
itu belum membayar lunas ke bank. Padahal pemilik
pertama itu meninggal, sementara ahli warisnya tidak
tau menau tentang persolan itu. Alih-alih mendapatkan
sertivikat rumah, tetangga saya itu malah harus
membayar tunggakan ke bank puluhan juta dan harus
mencicil lagi selama tujuh tahun.
Akhirnya setelah bertemu ahli waris pemilik rumah
pertama, mereka meminta kembali uang yang dulu
dibayarkan. Untungnya hali waris bersedia meski
dengan cara mencicil.
Sebenarnya saya tidak habis pikir dengan peristiwa
jual-beli rumah yang kacau ini. Apa lagi tetangga saya
itu suami -istri berpendidikan sarjana. Sang suami
bahkan punya latar belakang keuangan. Hanya saja
mereka itu terlalu baik, tidak punya prasangka buruk
dan sangat mudah percaya pada orang.
Dan ini bukan pertama kalinya mereka tertipu karena
kebaikan hati mereka itu. Sejak memutuskan resign dari
perusahaan kayu tempatnya bekerja, suami tetangga
saya beberapa kali membuat bisnis kecil-kecilan.
Beberapa kali saya lihat usaha mereka tumbuh. Bahkan
saya dan suami sempat senang dan kagum dengan
pertumbuhan usaha kecil mereka yang bisa membuka
lapangan kerja bagi banyak pengangguran di desa-desa
sekitar.
Namun setiap kali usaha mereka berjalan baik, selalu
saja datang cobaan. Ada orang yang melarikan uangnya,
ada yang tidak membayar bahkan sempat jadi korban
hipnotis.
Namun yang saya kagumi dari pasangan suami-istri
tetangga saya itu, mereka selalu saja sabar menghadapi
cobaan. Tetap mengalir seperti air sungai yang selalu
menemukan celah saat menabrak batu.
Cobaan demi cobaan yang datang menghampiri
sepertinya membuat ikatan dalam keluarga itu makin
kokoh. Pasangan itu tetap terlihat mesra. Bahkan
kekacauan satu sama lain hanya sekedar jadi bahan
ledekan. Keempat anak mereka juga sangat rukun. Yang
lebih besar selalu bisa melindungi dan membimbing yang
lebih kecil. Itu sepertinya yang membuat anak saya,
dan anak-anak tetangga lainnya betah main ke rumah
tetangga saya itu.
Dalam kehidupan yang penuh cobaan itu, saya melihat
peran seorang istri dan ibu yang luar biasa di sana.
Selain mengurus rumah dan empat anak, dia masih harus
terus memutar otak untuk membantu suami memenuhi
kebutuhan keluarga. Segala usaha dicoba. Mulai dari
jualan makanan kecil yang dititipkan di warung sampai
menerima jahitan. Tubuh kurusnya itu selalu kokoh
untuk menjadi bumper segala persoalan.
Dia bahkan terlalu kokoh sehingga tak pernah
menampakkan kesulitan yang dialami. Mungkin dia tak
pernah merasa itu sebagai kesulitan karena rasa syukur
yang selalu ada dalam dirinya.
Sambil menata barang-barang yang akan dibawa pindah,
perempuan berwajah manis itu bercerita pada saya.
“Saya tuch pernah lho nggak punya uang sepeserpun.
Padahal beras juga habis. Waktu itu saya mikir
bagaimana dengan keempat anak saya. Sepanjang hari
saya hanya bisa baca shalawat terus. Eh Alhamdulillah,
sorenya ada yang datang bayar suami saya,”kisahnya.
Tak ada nada mengeluh. Titik tekan ceritanya justru
pada kebesaran Allah yang selalu memberi jalan keluar
bagi persoalan-persoalannya.
“Pernah, saya tidak punya uang dan tidak tau apa lagi
yang harus dijual. Padahal besok harus kasih uang saku
buat anak-anak. Ya sudah, saya bilang ke suami agar
menjual mesin obrasnya saja. Tapi kayaknya mesin
obrasnya nggak mau dijual. Alhamdulillah, saat itu
datang pesanan membuat seragam olahraga,”kisah ibu
empat anak itu dengan wajah berseri-seri.
Mungkin besarnya rasa syukur mereka yang membuat
Allah selalu memberi jalan keluar atas segala persoalan
yang mereka hadapi. Bahkan perempuan itu masih tetap
tersenyum saat mengantar saya mengitari ruang demi
ruang di rumah yang akan segera ditinggalkannya.
Menunjukkan dinding dapur yang dihiasi lukisan
anaknya, atap rumah yang bocor, lukisan karya
suaminya yang masih terpajang di dinding ruang tamu.
“Ah, ini besok sudah bukan rumah saya,”katanya lirih,
masih diiringi senyum khasnya.
Sementara mata saya sudah sangat berat digandoli
bergalon air mata yang siap tumpah. Apa lagi jika
mengingat syair lagu “House for Sale”

… tell myself once more I won’t be here in spring
To see my roses grow
And all the things you tried to fix
The roof still leaks, the door still sticks…

Semoga setelah ujian demi ujian yang mereka alami
Allah segera menaikkan kelas mereka di tempat yang
baru nanti.

 

 

Full Time Mom

Hari ini, tepat satu tahun lalu saya mengakhiri jabatan di kantor “orang”. Memilih meniti karir baru sebagai full time mom. Bukan lagi ibu rumah tangga yang nyambi kerja di kantor (atau pekerja kantor yang nyambi jadi ibu rumah tangga ya?).

Ada beberapa alasan mengapa saya memilih resign dari kantor. Merasa sudah mentok, pengen punya usaha sendiri dan lain-lain. Tapi alasan utama saya adalah anak. Semakin lama semakin tidak kuat menyaksikan tatapan mata anak saya ketika mengantarkan ibunya berangkat kerja. Sedih melihat dia dari spion, sedang melambaikan tangan di gendongan pengasuhnya.

Ada peristiwa paling menohok perasaan saya. Saat itu anak saya baru masuk play group. Seperti anak-anak yang baru masuk sekolah, anak saya pun sering menangis di hari-hari pertama Dan dia selalu memanggil daddy bukan mommy. “Emang mommy-nya kemana aja?” gurau salah seorang guru saat menceritakan kebiasaan anak saya mencari daddy-nya.

Anak pertama saya, Callysta Aisha memang lebih dekat dengan daddy-nya. Maklum suami saya punya jam kerja seperti pekerja pada umumnya sementara saya tidak. Sejak kecil (bahkan sampai sekarang) Callysta terbiasa tidur dengan daddy-nya. Sementara saat itu saya sedang sibuk bekerja. Siang semestinya saya di rumah, namun lebih sering tidaknya karena, lagi-lagi, tuntutan pekerjaan.

Karena itulah saya memilih jalan ini. Menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Apa lagi, saat itu, Allah juga memberi saya rejeki yang lain, ¬†kehamilan anak ke dua saya. Insyaallah anak ke dua saya tidak akan mengalami nasib seperti kakaknya. Mengawali kehidupan dalam asuhan ibunya. Bukan “anak pembantu.”

My Way

and now the end is near
and so i face the final curtain
my friend, ill say it clear
ill state my case of which im certain

ive lived a life thats full
ive travelled each and every highway
and more, much more than this
i did it my way

regrets ive had a few
but then again too few to mention
i did what i had to do
and saw it through without exemption

i planned each chartered course
each careful step along the by-way
and more, much more than this
i did it my way

yes, there were times
im sure you knew
when i bit off more than i could chew
but through it all when there was doubt

i ate it up and spit it out
i faced it all
and i stood tall
and did it my way

ive loved, ive laughed, and cried
ive had my fill, my share of losing
and now, as tears subside
i find it all so amusing

to think i did all that
and may i say, not in a shy way
“oh no, oh no, not me
i did it my way”

for what is a man, what has he got?
if not himself then he has naught
to say the things he truly feels
and not the words of one who kneels

the record shows i took the blows
and did it my way
yes, it was my way